Senin, 04 Oktober 2021

MAKNA TARI DALAM ELEMEN PROPERTY TARI

 Makna Tari dalam Elemen Properti Tari 

Properti tari dalam sebuah karya seni merupakan alat yang dapat menunjang penampilan karya seni itu sendiri. Selain berisi gerakan, seni tari juga dilengkapi dengan iring-iringan musik dan properti tari yang juga memiliki sejarahnya tersendiri.

Indonesia sebagai negara yang terdiri dari bermacam-macam suku dan etnis menyimpan banyak sekali sejarah dan kebudayaan, salah satu diantaranya adalah tarian daerah yang mana tarian daerah memiliki ciri khas dan gerakan yang berbeda-beda pada tiap daerah. Jumlah tarian daerah di Indonesia mencapai ratusan.

Meski tidak ke semuanya namun pada umumnya properti yang digunakan pada sebuah tarian akan mengikuti nama dari tarian tersebut. Sebagai contoh tari piring yang memanfaatkan piring sebagai propertinya atau tari payung yang juga menggunakan payung. Untuk mengetahui apa itu properti tari yakni simak ulasan berikut ini.

Pengertian properti tari :

Pengertian properti tari adalah instrumen atau alat atau benda yang dipergunakan sebagai media pelengkap dalam pementasan tari agar menambahkan makna dan nilai keindahan dalam gerakan tari yang tengah dipentaskan, serta merupakan unsur yang ada dalam hampir setiap tarian.

Penggunaan properti dalam sebuah tarian tentunya harus mempertimbangkan asas guna dan fungsi dari properti karena penggunaannya secara mendasar akan menentukan skill penari dalam menguasai suatu jenis tarian. Pada umumnya tari tradisional di Indonesia memiliki berbagai macam properti dan ciri khas yang berbeda-beda pada setiap tarian.

Fungsi properti dalam seni tari :

Fungsi properti tari adalah sebagai alat yang digunakan dalam pementasan, ada 3 fungsi properti dalam seni tari yaitu mendeskripsikan tema dari sebuah tarian, memperjelas gerakan dan karakter dari seorang penari, serta menambah keindahan dalam gerakan tari.

  • Mendeskripsikan tema tarian.
    Mendeskripsikan tema tarian merupakan salah satu fungsi dari properti tari, meskipun tema tarian terkadang cukup dengan hanya diilustrasikan lewat gerakan namun dengan keberadaan media tambahan membuat penggambaran tema dari sebuah tarian menjadi semakin jelas dan mudah dinilai oleh orang yang menyaksikan.
    Sebagai contoh tari piring yang berasal dari Sumatera Barat yang memiliki tema ungkapan rasa syukur akan hasil panen yang melimpah. Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam tari piring menggambarkan keseluruhan kegiatan dalam bertani mulai dari menanam, menyiangi, hingga proses memanen.
  • Memperjelas gerakan dan karakter penari.
    Fungsi lainnya adalah memperjelas gerakan dan karakter penari, baik perempuan maupun laki-laki. Tarian daerah yang didasari oleh dongeng maupun legenda memiliki peran yang diaplikasikan ke dalam tarian sehingga dengan adanya properti, semakin memperjelas pula karakter dan watak dari seorang penari.
  • Memperindah gerakan.
    Untuk fungsi yang terakhir adalah memperindah gerakan, secara tidak langsung dengan adanya properti keindahan dari sebuah tarian akan bertambah. Selain sebagai penunjang nilai-nilai keindahan dari sebuah tarian, properti juga mempermudah tersampainya pesan dan makna yang ingin disampaikan penari melalui gerakan-gerakannya.

Jenis Properti Tari :

Sementara macam-macam properti tari dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu.

  1. Setproperti.
    Properti yang digunakan pada panggung guna mendukung sistem serta memudahkan dalam pengungkapan setting situasi dan kondisi yang diinginkan. Contoh yang termasuk ke dalam set properti adalah panggung, lighting, background, dan sebagainya.
  2. Handproperti.
    Properti yang digunakan oleh penari sebagai alat pendukung karakter yang akan diperankan. Contoh yang termasuk ke dalam handproperti adalah selendang, keris, topeng, piring, panah, dan sebagainya.


 Makna Tari dalam Elemen Properti Tari 

Properti tari memiliki fungsi sebagai sarana ekspresi estetis, sarana simbolik dan senjata. Pemilihan fungsi properti itu sifatnya tidak mutlak (Maryono, 2012). Properti tari yang memiliki fungsi dan makna sebagai senjata, nampak pada beberapa jenis tari seperti tari-tari perang pada suku Dayak dan Papua, senjata memiliki makna khusus yang menjelaskan sebuah peristiwa dalam tari, misalnya peperangan. Properti tari sebagai senjata juga dapat menjelaskan karakter tertentu, misalnya properti panah untuk seorang ksatria. Properti sebagai sarana ekspresi terdapat pada beberapa tari kreasi, misalnya tari Jaipong dengan properti kipas. Properti caping sebagai sarana ekspresi kebahagiaan pada Tari Panen Keturut.  properti caping pada tari Panen Keturut, caping fungsi utama nya yaitu sebagai benda sejenis topi yang berfungsi untuk menghalangi panas matahari, tetapi caping sebagai sarana ekspresi pada tari dapat terlihat dari penggunaan caping yang menjadi bagian gerak untuk mengungkapkan ekspresi kebahagiaan petani, dengan simbol gerak melempar caping.
 Contoh lain penggunaan properti sebagai sarana estetis terdapat pada tari-tari nontradisi atau modern, misalnya pada tarian Gloving. Tari Gloving adalah sebuah tari modern dengan gerak Hip-hop menggunakan properti sarung tangan yang dilengkapi lampu led, tarian dipertunjukan di panggung dengan tata cahaya yang gelap. Lampu led pada sarung tangan menciptakan keindahan tersendiri dalam pertunjukan tari. Properti sebagai sarana simbolik terdapat pada tari Topeng Cirebon. Properti topeng pada tari Topeng Cirebon memiliki makna yang berbeda pada setiap karakter properti topeng yang ditarikan. Makna tersebut berkaitan Unit Pembelajaran 1 Berkenalan Dengan Makna Tari 39 dengan warna topengnya. Warna putih pada topeng Panji melambangkan kesucian, layaknya bayi yang baru lahir, warna merah pada Topeng Kelana melambangkan angkara murka dan titik puncak dari fase kehidupan. Properti (property) berarti alat-alat yaitu sebagai set dan alat bantu berekspresi. Properti merupakan peralatan penunjang gerak sebagai wujud ekspresial (Hidajat, 2005). Properti bisa berupa alat tersendiri, bisa pula bagian dari tata busana (Sumaryono dan Endo, 2006). Properti menjadi bagian dari tata busana jika properti tersebut tidak digunakan untuk menunjang gerak, sarana berekspresi dan penyampaian makna tari. Sebagai contoh, selendang dapat dikategorikan sebagai tata busana jika selendang tersebut tidak digunakan dalam menunjang gerak tari. Selendang sebagai properti tari, misalnya jika selendang tersebut digunakan untuk menari dan memiliki makna khusus yang menunjang pertunjukan tari. Contohnya selendang menjadi bagian dari gerak seblak sampur dalam tari klasik. Gambar 1.12 Selendang sebagai properti dalam gerak seblak sampur pada garapan tari “Sangyang Hawu”.



Selasa, 21 September 2021

MAKNA TATA BUSANA DAN TATA RIAS DALAM TARI

Makna Tata Busana dalam Tari 

Dalam sebuah karya tari selain elemen gerak dan musik, terdapat pula elemen pendukung lain yang tidak kalah penting dalam sebuah karya tari. Elemen tersebut adalah tata busana atau kostum. Rias Busana adalah segala tindakan untuk memperindah diri agar terlihat menarik (Lestari, 1993). Tata busana adalah segala sesuatu yang dipakai dari kepala sampai kaki. Untuk itu, tata busana tidak hanya pakaian saja, tetapi juga meliputi elemen aksesori pelengkap seperti sanggul, hiasan kepala, gelang, kalung dan lainnya. Aksesori adalah perlengkapan yang menunjang atau melengkapi busana untuk memberikan efek dekoratif (memperindah) pada karakter atau lakon yang dibawakan (Harymawan, 1993). Semua elemen tersebut sifatnya saling melengkapi untuk menunjang makna yang ingin tersampaikan dalam sebuah tarian. Tata busana dalam penerapannya pada seni tari tidaklah sembarangan, karena harus memperhatikan latar belakang, asal daerah dan cerita dari tarian tersebut. Elemen tata busana yang berkaitan dengan makna tari dapat dianalisis berdasarkan bentuk, warna, corak dan material busana yang digunakan. Makna busana pada aspek bentuk atau desain pola, berpengaruh pada makna penokohan yang ingin ditampilkan, misalnya desain baju untuk karakter seorang putri berbeda dengan karakter rakyat biasa. Contohnya adalah karakrer Putri pada tari Saraswati. Kostum Putri pada tari Saraswati berbeda dengan karakter angsa yang digambarkan memiliki sayap. 

 Penggambaran tokoh angsa dengan busana menggunakan sayap dari selendang Sumber: Laras Kusuma (2018) Desain yang mewah dengan sentuhan aksen permata pada kostum maupun aksesori mahkota, menjadi simbol bagi penonton yang melihat bahwa tokoh tersebut adalah tokoh yang memiliki kelas sosial yang tinggi atau gelar kehormatan. Sedangkan untuk karakter rakyat pada sebuah pertunjukan tari, desain atau pola rancangan busana dirancang lebih sederhana. Biasanya rancangan tata busana untuk rakyat terinspirasi dari busana yang digunakan masyarakat dalam bekerja sehari-hari, misalnya sebagai pedagang atau petani. Desain sederhana pada kostum rakyat memiliki makna kesederhanaan. 

Makna tari dalam tata busana juga dapat diamati berdasarkan warna yang digunakan. Warna dalam khazanah budaya tradisional memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan kosmologi dunia, yaitu kehidupan dan kematian. Warna putih melambangkan warna langit atau melambangkan kehidupan, hitam melambangkan warna bumi dan tanah serta kematian, sedangkan warna merah melambangkan dunia manusia itu sendiri (Sumardjo, 2016). Makna tersebut dapat dilihat dalam khazanah budaya masyarakat Batak Toba, di mana terdapat tiga warna utama yang biasanya tergambar dalam kerajinan tangan seperti kain ulos, rumah adat, maupun peralatan lainnya. Merah disebut narara, putih disebut nabotar dan hitam nabirong. Makna dari tiga warna tersebut yaitu keseimbangan dalam hidup. Oleh karena itu makna warna kain ulos tersebut menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba termasuk pada pertunjukan tari Tor-Tor. 

 Makna tari juga tidak terlepas dari corak atau motif pakaian yang digunakan. Dalam beberapa tarian Jawa Klasik, kain batik yang digunakan memiliki makna tertentu yang tidak boleh digunakan sembarangan. Corak batik tertentu seperti Parang Barong hanya diperuntukan khusus untuk raja (Prasetyo, 2010). Selain corak yang erat kaitannya dengan tokohtokoh berdasarkan kelas sosial, terdapat juga beberapa corak kain yang melambangkan suatu peristiwa, seperti kain batik motif truntum yang digunakan untuk acara pernikahan. Material tata busana dalam tari juga memiliki makna tersendiri. Material adalah bahan dasar pembuat elemen busana seperti kain, logam atau kulit hewan dan tumbuhan. Material pada tari memiliki makna khusus sehingga tidak dapat digantikan oleh material lain, karena akan mengubah esensi makna tarinya. Contohnya seperti aksesori kepala pada tari Balian Dadas menggunakan bahan dari anyaman janur daun kelapa. Janur daun kelapa memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Dayak, karena daun kelapa mengandung energi positif yang menghubungkan manusia dengan leluhur. Makna janur kelapa pada aksesori tari Balian Dadas, bahwa hendaknya masyarakat Dayak harus selalu menghormati budaya leluhurnya, jika material daun kelapa ini dihilangkan, maka makna pada tarian Dadas akan berubah.  Makna tari dalam elemen tata busana dapat dilihat dari aksesori yang digunakan di kepala. Aksesori kepala melambangkan tokoh yang diperankan seperti tokoh raja atau ratu yang biasanya memakai aksesori mahkota. Makna aksesoris dalam tata busana tari juga dapat digunakan untuk menggambarkan sosok fauna seperti pada tari Merak dan tari Kijang Kencana dengan meniru corak bulu, sayap sosok hewan yang ditarikan pada desain kostumnya.

Makna Tata Rias dalam Tari 

Bentuk tata rias dalam tari dikenal dengan tata rias panggung. Tata Rias panggung atau stage make up adalah riasan untuk menampilkan watak tertentu bagi seorang pemeran di panggung. Make up yang biasa digunakan dalam pertunjukan panggung dapat digolongkan ke dalam corrective make up, style make-up, dan character make-up (Paningkaran, 2013). Tata Rias panggung pada umumnya memiliki ciri-ciri yang khas, antara lain, garis wajah yang tajam, pilihan warna yang mencolok atau kontras dan penggunaan alas bedak yang lebih tebal (Thowok, 2012). Hubungan tata rias dengan makna tari dapat dilihat dari aspek bentuk riasan dan warna riasan. Bentuk riasan dapat terlihat pada bentuk alis, kumis, dan bibir serta bentuk bayangan tulang (shadding). Aspek warna dapat dilihat dari warna bibir, warna riasan mata, dan warna alas bedak. Tata rias memiliki makna tersendiri jika dianalisis dari segi dan bentuk, contohnya pada bentuk tata rias paes pada tari Jawa ataupun pengantin Jawa. 

 Tata rias paes yang umum terdapat dalam karya tari adalah Godheg, Godheg memiliki makna ketika manusia sudah paham tentang asal usulnya dan selalu mengasah budi, maka manusia diharapkan dapat kembali ke asal dengan sempurna (Yuwati, 2018). 

Tata rias menjadi salah satu elemen tari yang dapat menyampaikan ide atau makna tari yang ingin disampaiakan oleh koreografer, contohnya rias dalam tari Maung Lugay, tata rias menggambarkan karakter harimau sesuai dengan ide yang ingin disampaikan. Tata rias juga dapat menggambarkan latar belakang budaya atau dari mana tari tersebut berasal, misalnya polapola lukisan wajah atau face painting yang khas pada beberapa daerah, seperti contohnya rias pada tarian Papua. Motif huruf S atau S terbalik dalam body painting tata rias Papua memiliki makna dualistik, simbol paradoks laki-laki dan perempuan, langit dan bumi. Lukisan wajah menggunakan cat dengan bintik-bintik atau garis putih mengandung makna rohaniah (Sumardjo, 2016).

Minggu, 19 September 2021

MENATA GERAK BERDASARKAN POLA IRINGAN TARI


Dalam mengembangkan kreativitas gerak tari, siswa diperlukan wawasan dan pengetahuan tari sebagai dasar pemahaman untuk melakukan kegiatan tari. Kegiatan tari yang sifatnya praktik merupakan salah satu bentuk aplikasi dari pemahaman unsur-unsur pendukung tari. Oleh karena itu, dalam buku ini Siswa diajak untuk mengkaji kembali unsur-unsur pendukung tari serta unsurunsur pendukung lainnya, karena tari dalam perwujudannya perlu didukung oleh unsur-unsur lainnya seperti rias, busana, musik, properti, tata pentas dan sebagainya. Kelengkapan semua unsur pendukung merupakan hal penting dalam tari, sehingga tarian dapat dinikmati oleh penonton. Kemampuan pemahaman tersebut perlu dimiliki, agar kegiatan tari di sekolah menjadi sarana pendidikan yang kreatif, inovatif, dan sekaligus menyenangkan bagi siswa. Terpenting, siswa memiliki perangkat pengetahuan dan keterampilan dalam memahami unsur-unsur pendukung dalam tari sehingga akan memudahkan siswa dalam melakukan aktivitas kreatif dalam mengembangkan tari. 

 Secara umum, perlu dipahami perbedaan antara elemen-elemen dasar tari dan unsur-unsur pendukung dalam tari, sebagai berikut. 

A. Unsur-unsur atau elemen-elemen dasar tari: 1. Gerak 2. Tenaga 3. Ruang 4. Waktu 

B. Unsur-unsur pendukung tari: 1. Tata Rias Tari 2. Tata Busana Tari 3. Musik Tari 

Berdasarkan pengklasifikasian di atas, beberapa unsur pendukung dalam tari secara garis besar terbagi pada tiga bagian, yakni tata rias, tata busana, dan musik tari. Meskipun pada kenyataannya banyak pertunjukan tari yang memerlukan unsur-unsur pendukung lainnya seperti properti tari, dekorasi panggung, tata lampu atau cahaya, dan sound sistem. Perlu dipahami terlebih dahulu dari ketiga unsur pendukung yang disebutkan diawal, yakni tata rias, tata busana dan musik tari. 

1. Pengertian Tata Rias 

Istilah tata rias di masyarakat sudah tidak asing lagi. Tata rias dalam pengertian umum berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya indah atau cantik. Tata rias tari adalah seni menata wajah atau muka untuk kebutuhan pentas tari. Tata rias tari merupakan fasilitas bagi penari untuk menata rupa visualisasi tubuhnya sesuai dengan tarian yang disajikan. Pada dasarnya tata rias tari adalah seni menggunakan alat kosmetik untuk menghias atau menata rupa wajah yang sesuai dengan peranannya. Kaitan penggunaan tata rias dalam kebutuhan seni tari merupakan hal penting yang dilibatkan di dalamnya. Pertunjukan seni tari bukanlah penampilan gerak semata, namun gemulainya gerak tari memerlukan wajah penari yang menarik sesuai dengan tuntutan perannya agar tarian tampil sempurna. Penggunaan tata rias dalam tari pemakaiannya sangat beragam bergantung dari jenis, karakter, dan kebutuhan peran tarian yang dibawakan 

a. Jenis-jenis tata rias 

Tata rias dalam penampilannya memiliki jenis dan tujuan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tata rias dapat dibedakan berdasarkan jenisnya yaitu sebagai berikut. 

(1) Tata rias sehari-hari; yaitu digunakan untuk memberi kesan pada seseorang agar tampil lebih rapi dan menarik serta lebih cantik dari biasanya. 

(2) Tata rias khusus; yaitu tata rias yang sengaja dititikberatkan pada maksud serta tujuan penampilannya. Tata rias jenis ini di antaranya tata rias untuk pengantin. 

(3) Tata rias pertunjukan; yaitu penataan wajah untuk para pemain yang disesuaikan dengan peran yang dibawakannya. Tata rias untuk kebutuhan pertunjukan dalam pemakaiannya disesuiakan dengan efek lampu yang digunakan. Oleh karena itu, penggunaan tata rias ini harus dilakukan oleh orang yang ahli di bidang pertunjukan.


2. Pengertian Tata busana 

Tata busana dalam pengertian umum adalah pakaian lengkap yang dikenakan oleh seseorang untuk kebutuhan tertentu. Menurut Onong Nugraha dalam Endang Caturwati (1996), yang dimaksud dengan busana adalah segala yang dikenakan seseorang, yang terdiri dari pakaian dan perlengkapannya (accessories) dan identik dengan kata kostum. Tata busana atau kostum tari pada dasarnya ialah pemakaian sandang dan propertinya. Pemakaian sandang ini meliputi bagian tubuh: kepala, leher, badan, bahu, pergelangan tangan, pinggang, kaki, dan pergelangan kaki. Di antara seluruh perlengkapan tersebut ada pula yang berfungsi ganda, yaitu sebagai alat atau properti dalam menarinya, yaitu seperti soder, keris, panah, dan yang lainya.

 a. Jenis-jenis busana Secara umum tata busana terdiri dari empat jenis, yaitu sebagai berikut. 

 (1) Tata busana sehari-hari adalah busana yang dipakai sehari-hari dengan penampilan sederhana sesuai dengan kebutuhannya dan tidak memerlukan atribut khusus lainnya. 

(2) Tata busana khusus adalah pakaian yang digunakan dalam kegiatankegiatan atau peristiwa-peristiwa tertentu yang bukan pakaian sehari-hari. 

(3) Tata busana pertunjukan adalah jenis pakaian yang khusus dibuat untuk tujuan pertunjukan. Pembuatan busana ini dirancang berdasarkan dari pakaian sehari-hari, kemudian dikembangkan. Sebagai hasil imajinasi si penggarap seni (seniman) busana pertunjukan dirancang sesuai dengan kebutuhan pentas dan didasarkan pula pada aspek estetiknya. 

(4) Tata busana tari adalah pakaian yang digunakan oleh penari dengan segala kelengkapannya berdasarkan untuk kebutuhan pentas. 

b. Fungsi Busana Tari 

Busana tari secara umum berfungsi untuk menunjang atau mendukung ekspresi suatu tarian. Adapun fungsi yang lebih spesifik sebagai berikut. 

(1) Secara psikis; - Busana sebagai sesuatu yang paling dekat dan akrab dengan penari sehingga menjadi penentu keberhasilan suatu tarian. - Busana sebagai pendukung secara moril bagi penari, sehingga penari terdorong untuk menari dengan lebih semangat dan lebih baik. 

(2) Secara fisik; - Busana sebagai penutup aurat dan bagian tubuh lainnya yang dianggap perlu sehingga penari merasa nyaman ketika menari. - Busana sebagai pelindung tubuh dari pengaruh sekelilingnya seperti angin atau cuaca panas dan dingin. 

(3) Secara artistik; - Busana berkaitan dengan aspek seni rupa. Oleh karena itu dalam tari mengandung estetik melalui garis, warna, bentuk, dan corak. - Busana merupakan pendukung tarian yang tidak dipisahkan dalam penampilannya. Oleh karena itu, identitas suatu tarian dan dorongan menari harus tercapai melalui kesenirupaan. 

(4) Secara estetik; - Busana merupakan unsur kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan keindahannya dapat dihayati. - Busana merupakan unsur keserasian bagi tubuh penari dan tarian itu sendiri yang dapat mengungkapkan karakteristik dan tujuan dari suatu tarian. 

(5) Secara teateral; - Busana menunjukkan dan menggambarkan peran. - Busana merupakan komponen pemeranan melalui corak dan warna ke dalam maksud sebuah pementasan tari. 


3. Pengertian Musik Tari 

Keberadaan musik dalam tari merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan karena musik merupakan partner dari tari. Lahirnya gerak walaupun tanpa musik menurut Soedarsono (1972) sudah mengandung unsur ritme, namun demikian ritme gerak dengan musik jelas tidak sama pengertiannya. Hadirnya musik dalam tari bukan merupakan barang baru dan bukan sekadar iringan, tetapi musik dalam tari sudah menyatu sejak zaman prasejarah sampai sekarang. Oleh karena itu, di mana ada tari di sana ada musik. Musik dalam tari bukan hanya sekadar pengiring, melainkan musik sudah larut di dalam tari. Dengan demikian, kehadiran musik dalam tari perlu digarap dengan betul dan diperhitungkan sesuai dengan garapan tarinya. 

Minggu, 22 Agustus 2021

TEKNIK BERKARYA TARI KREASI & PROSEDUR MERANGKAI GERAK TARI KREASI

TEKNIK BERKARYA TARI KREASI

Teknik dan proses gerak tari tradisional bermacam-macam. Beruntunglah Indonesia memiliki keteknikan tari yang berbeda-beda setiap daerahnya. Boleh jadi teknik gerak dan prosesnya sama tetapi memiliki istilah berbeda, tetapi mungkin juga ada yang sama dalam teknik dan prosesnya serta memiliki istilah yang sama.

Apa tolak ukur nilai keindahan karya tari kreasi?

Pemahaman dan pengalaman terhadap teknik gerak tari kreasi adalah dasar untuk mengeksplorasi macam teknik gerak yang dapat dirangkai menjadi sebuah tarian. Penguasaan teknik gerak dasar tari tertentu sekaligus menjadi tolak ukur mengenai nilai keindahannya.

Sebagai contoh teknik tari Bali berbeda dengan teknik tari Jawa, nilai keindahannya pun berbeda. Tidak mungkin seseorang menilai tari Bali dengan teknik keindahan tari Jawa atau sebaliknya.
Teknik gerak dasar ini terdiri dari: gerak kepala, gerak badan, gerak tangan, dan gerak kaki.

Dari keempat teknik ini, kalian dapat mengembangkan dan menerapkan menjadi sebuah kesatuan tarian yang utuh. Nah, untuk lebih jelasnya kalian perhatikan gambar-gambar gerak tari di bawah ini.

1. Teknik gerak kepala

Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi
Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi

2. Teknik gerak badan

Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi
Posisi seperti ini (Gambar 10.6) badan tegak arah hadap ke depan, menurut kamu ini kemana saja badan ini dapat digerakkan? Nah betul, badan ini dapat digerakkan diputar ke kiri, dan diputar ke kanan. Apabila diputar ke ke kanan badan menjadi serong kanan, apabila ke kiri menjadi serong kiri. Gerak badan juga dapat dilakukan ke atas, dan ke bawah. Hampir disetiap tari di Indonesia menggunakan arah hadap yang bervariasi. Gerak badan yang berputar 180o terdapat pada Topeng Cirebon Gaya Losari yang disebut ngelier.
Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi

3. Teknik gerak tangan

Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi

4. Teknik gerak kaki

Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi
Konsep, Teknik dan Prosedur Karya Tari Kreasi

Prosedur Merangkai Gerak Tari Kreasi 

Dari pengalaman sebelumnya yang telah kamu lakukan secara naluriah, sebenarnya kamu telah membuat sebuah karya tari yang secara teoritis mengikuti langkah dan kaidah proses penciptaan tari, seperti yang telah diungkapkan oleh Hawkins (2003) dalam bukunya yang berjudul Creating through the Dance. Adapun langkahnya sebagai berikut.

1. Eksplorasi 

Eksplorasi yaitu pengalaman melakukan penjajakan gerak, untuk menghasilkan teknik gerak. Pada kegiatan ini kamu dipersilahkan untuk berimajinasi dan melakukan penafsiran gerak terhadap apa yang telah dilihat dan didengar. Kamu dapat bebas bergerak mengikuti kata hati, mengikuti imajinasi/daya hayal, dan menafsirkannya ke dalam bentuk gerak.

2. Improvisasi 

Improvisasi yaitu pengalaman secara spontanitas mencoba atau mencari kemungkinan teknik gerak yang telah diperoleh pada waktu eksplorasi. Dari setiap teknik gerak yang dihasilkan pada waktu eksplorasi/pencarian gerak, selanjutnya dikembangkan dari aspek tenaga, ruang, dan waktu sehingga menghasilkan teknik gerak yang sangat banyak.

3. Evaluasi 

Evaluasi  yaitu pengalaman untuk menilai dan menyeleksi teknik gerak yang telah dihasilkan pada tahap improvisasi. Dalam kegiatan ini kalian mulai menyeleksi dengan cara membuat teknik gerak yang tidak sesuai dan memilih teknik gerak yang sesuai dengan gagasannya. Hasil inilah yang akan digarap oleh kalian pada tahap komposisi tari.

4. Komposisi 

Komposisi  yaitu tujuan akhir mencari gerak untuk selanjutnya membentuk tari dari gerak yang kamu temukan.


MAKNA TARI DALAM GERAK TARI DAN MUSIK

 Makna Tari dalam Gerak Tari dan Musik 

Gerak dalam tari terdapat dua jenis, yaitu gerak maknawi dan gerak murni. Gerak murni atau gerak wantah adalah gerak yang disusun dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk artistik (keindahan) dan tidak mempunyai makna-makna tertentu. Gerak maknawi (gesture) atau gerak tidak wantah adalah gerak yang mengandung arti atau maksud tertentu dan telah distilisasi, dengan kata lain dari wantah menjadi tidak wantah (Jazuli, 1994). Contoh gerak murni adalah gerak “geol” pada tari Jaipong. Contoh gerak murni lainnya yaitu gerak melompat, atau gerak berputar. Contoh gerak maknawi dalam tari terdapat pada tari Tani, misalnya seorang petani melakukan gerak tandur atau menanam padi. Makna dalam gerak tari berkaitan juga dengan ruang. Desain ruang gerak yang lebar menandakan sebuah kebebasan, ekspresi jiwa yang bebas. Desain ruang gerak dengan desain ruang yang lebar biasanya terdapat pada tari-tari rakyat atau pada tarian yang menceritakan tentang rasa bahagia dan keceriaan, misalnya pada tari “Lenggang Nyai” dari Betawi karya Wiwik Widyastuti. Tari Lenggang Nyai memiliki tempo gerak yang sedang hingga tempo yang cepat. Ruang gerak yang lebar memiliki makna kebebasan, sesuai ide garapannya yaitu menceritakan tokoh Nyai Dasimah yang memilih untuk bebas dari kekangan sosok tuan Edward dan mengejar cintanya.

Tari Lenggang Nyai


Desain ruang yang sempit biasanya terdapat pada tari-tari klasik atau tari-tari yang berkembang di wilayah kerajaan. Desain ruang sempit tersebut terikat aturan nilai-nilai kesopanan yang dianut dalam lingkungan kerajaan. Salah satunya tari Gending Sriwijaya yang merupakan tarian dari Sumerta Selatan. Tarian ini menggambarkan keagungan kerajaan Sriwijaya. Desain ruang gerak yang sempit dalam garapan tari modern atau kontemporer dapat juga menggambarkan ekspresi keterkekangan, kesedihan serta kemalangan. Makna tari dapat dilihat berdasarkan intensitas tenaga dalam sebuah gerak. Besar kecilnya tenaga dan cara bagaimana dikeluarkan, menentukan kualitas ekspresi dari bagian setiap gerak (Hawkins, 2003). Tari dengan intensitas tenaga yang besar dan kuat menggambarkan juga sosok yang kuat dan gagah sesuai dengan karakter tokoh tarinya, misalnya pada tari Ngremo, intensitas gerak yang kuat memiliki makna bahwa tokoh yang diperankan menggambarkan semangat kepahlawanan. Intensitas gerak yang lemah dan lembut memiliki makna kelembutan dan kebaikan, seperti pada gerak-gerak tari yang menggambarkan sosok seorang putri kerajaan. 


Makna Tari dalam Elemen Musik 

Fungsi musik dalam tari dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu musik sebagai pengiring tari, musik sebagai pemberi suasana tari dan musik sebagai ilustrasi atau pengantar tari (Jazuli, 1994). Musik dalam tari terdapat dua jenis, yaitu musik instrinsik dan musik ekstrinsik. Musik intrinsik merupakan musik yang berasal dari bagian tubuh penari, misalnya berupa nyanyian yang dinyanyikan oleh penari, tepukan tangan atau suara yang berasal dari properti tari yang digunakan seperti gelang tangan atau gelang kaki. Contoh tari yang menggunakan musik intrinsik adalah tari Ratoeh Jaroe, karena dalam tarian tersebut penari melakukan gerakan sambil menyanyi. Suara hentakan tangan pada anggota tubuh seperti dada, juga menghasilkan suara sebagai penanda tempo gerak. Musik ekstrinsik merupakan musik yang berasal dari alat-alat musik pengiring tari, seperti alat musik pada gamelan Sunda atau Jawa. Pada masa modern saat ini, musik ekstrinsik dapat berupa audio dari rekaman kaset atau mp3. Musik pada pertunjukan tari memiliki fungsi yaitu sebagai pengiring tari dan pemberi suasana pada tari. Dalam kepercayaan masyarakat tertentu beberapa alat musik memiliki makna yang berkaitan dengan fungsi tari. Masyarakat tertentu percaya bahwa alat musik menjadi sarana untuk menghubungkan dunia manusia dengan leluhurnya, contohnya yaitu alat musik Tarawangsa pada upacara Seren Taun di Sumedang Jawa Barat.

UNSUR-UNSUR GERAK TARI

UNSUR-UNSUR GERAK TARI DIBEDAKAN MENJADI :

1. Tenaga 

 Secara umum tenaga dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan aktivitas kehidupannya di muka bumi ini. Dengan tenaga, melahirkan adanya gerakan atau aktivitas. Tenaga digunakan untuk mengawali, mengendalikan, dan menghentikan gerak. Tenaga juga yang membedakan adanya gerak  yang bervariasi. Penggunaan tenaga tentu disesuaikan dengan kebutuhan aktivitasnya masing-masing. Demikian pula halnya penggunaan tenaga untuk kebutuhan gerak dalam tari. Penggunaan tenaga pada setiap gerak dalam setiap tarian tentu berbeda. Hal ini disebabkan oleh banyak hal di antaranya jenis dan karakter tarian. Melalui penggunaan tenaga akan dapat membedakan tarian yang berbeda seperti tari halus, tari ladak, dan tari gagah. Salah satu keberhasilan penari di atas pentas dalam membawakan tarian adalah dengan penerapan tenaga secara proporsional. Artinya, pada bagian mana si penari membawakan tarian dengan menggunakan tenaga besar atau kuat dan pada bagian mana harus menggunakan tenaga lembut atau halus, dan sebagainya. Sebagai contoh untuk tarian yang karakternya halus atau lungguh seperti tokoh Arjuna atau tokoh Sinta, penggunaan tenaga relatif tidak besar atau kuat, tetapi sebaliknya untuk mengungkapkan atau membawakan tarian yang berkarakter gagah seperti Rahwana/Klana, digunakan tenaga yang besar atau kuat. Namun demikian, tidak berarti bahwa tarian yang gagah harus ditarikan dengan tenaga kuat dari awal sampai akhir tarian atau sebaliknya tarian yang karakter halus harus dibawakan dengan lemah lembut. Baik tenaga kuat maupun tenaga lembut keduanya dalam tari digunakan sesuai dengan kebutuhan ungkapan tarian seperti karakter, tema, dan yang lainnya. Oleh karena itu, penggunaan tenaga yang proporsional akan melahirkan serta membedakan jenis tarian yang satu dengan tari yang lainnya. 

Penggunaan tenaga dalam tari meliputi tiga aspek, yaitu sebagai berikut.

 a. Intensitas, yaitu banyaknya atau sedikitnya penggunaan tenaga yang dilakukan oleh penari sehingga menghasilkan tingkatan ketegangan. 

b. Aksen, yaitu perubahan gerak dengan penggunaan tenaga secara tiba-tiba dan kontras. 

c. Kualitas, yaitu efek gerak yang diakibatkan oleh cara penggunaan atau penyaluran tenaga. Ketiga aspek tersebut masing-masing digunakan untuk memenuhi kebutuhan tuntutan sebuah tarian. Oleh karena itu, baik intensitas gerak, aksen maupun kualitas merupakan pengolahan bentuk ekspresif gerak dari sebuah tarian, agar tarian dapat dinikmati dengan indah. 

2. Ruang 

Pengertian ruang dalam tari adalah tempat yang digunakan untuk kebutuhan gerak. Gerak yang dilakukan dalam ruang dapat dibedakan ke dalam ruang yang digunakan untuk tempat pentas dan ruang yang diciptakan oleh penari. Pengertian ruang secara umum diartikan ke dalam dua hal, yaitu:  

a. Ruang sebagai tempat pentas yaitu tempat penari dalam melakukan gerakan sebagai wujud ruang secara nyata, yaitu merupakan arena yang dilalui oleh penari saat menari. Pengertian ruang di sini dapat berupa arena dan panggung proscenium atau tempat pertunjukan lainnya. 

 b. Ruang yang diciptakan oleh penari ketika membawakan tarian. Gerak yang besar tentu menggunakan ruang yang luas, dan gerak yang kecil akan menggunakan ruangan yang tidak luas. Contohnya, ketika penari harus menirukan gerak burung terbang tentu ruang yang digunakan akan lebih luas atau besar dan akan berbeda ketika penari menirukan gerak semut berjalan, tentu ruang gerak yang digunakan lebih kecil. 

 Cara penggunan ruang dalam tari dapat dilihat dari beberapa segi yaitu garis, volume, arah, dan level. (1) Garis yaitu kesan yang ditimbulkan setelah penari selesai menggerakkan tubuhnya. Garis ini dapat ditimbulkan oleh badan penari dan atau di luar badan penari. Gerak yang ditimbulkan oleh badan penari yaitu gerak yang dihasilkan dari seluruh anggota badan seperti tangan, badan, kepala, kaki dan sebagainya. Dari bentuk-bentuk garis tubuh dan anggota tubuh tersebut akan menghasilkan desain-desain gerak dan garis yang masingmasing memiliki kesan tersendiri. 

a) Desain vertikal yaitu disain yang menggunakan anggota badan pokok yaitu tungkai dan lengan menjulur ke atas, atau ke bawah. Desain ini memberi kesan egosentris dan menyerah, 

 b) Desain horizontal, yaitu desain yang menggunakan sebagian besar dari anggota badan mengarah ke garis horizontal. Kesan yang muncul adalah kesan mencurah. Desain lurus, yaitu desain yang menggunakan garis-garis lurus pada anggota badan seperti tungkai, torso dan lengan. Desain ini memberi kesan kesederhanaan dan kokoh, 

 c) Desain lengkung, yaitu desain dari badan dan anggota-anggota lainnya yang menggunakan garis-garis lengkung. Desain ini memberi kesan halus dan lembut. Gerak-gerak di luar badan penari dapat berupa garis-garis seperti garis diagonal, garis lengkung, garis lurus, garis lingkaran, dan sebagainya seperti tampak dalam gambar di bawah. 



(2) Volume, yaitu jangkauan gerak yang digunakan oleh penari ketika menari. Seperti volume gerak kecil, volume gerak besar, dan volume gerak sedang yang dihasilkan oleh anggota badan. 

 (3) Arah, yaitu arah hadap dan arah pandangan penari ketika menari. Arah hadap penari dapat ke samping kanan-kiri, arah ke depan, arah ke belakang, arah serong depan kanan-kiri, arah serong belakang kanan-kiri, dan sebagainya. 

 (4) Level, yaitu berhubungan dengan tinggi rendahnya gerak dari badan penari, dan tinggi rendahya badan penari ketika menari. Terdapat tiga jenis level yang lazim digunakan dalam tari yaitu level tinggi. Pada level ini, gerak yang dilakukan di atas badan penari. Level sedang yaitu gerak yang dilakukan berkisar di bawah bahu sampai perut, dan level rendah yaitu gerak yang dilakukan dari perut ke bawah. Penggunaan level-level tersebut dapat digunakan pula dengan cara meninggikan atau merendahkan tubuh dari bentuk tubuh yang normal. 

(5) Fokus, yaitu sudut pandang penari pada saat melakukan gerak di atas pentas sesuai dengan tuntutan geraknya. Terdapat fokus dekat, fokus jauh, dan fokus sedang. Ketiga fokus atau sudut pandang ini akan berpengaruh besar terhadap kemampuan penari dalam pengungkapan karakter tokoh tarian yang dibawakan. 

3. Waktu 

Unsur waktu merupakan elemen tari yang tidak dapat diabaikan. Unsur waktu dalam tari, penggunaannya berkaitan erat dengan unsur lainnya yaitu gerak, tenaga, dan ruang. Keempat unsur tersebut saling menunjang satu dengan yang lainnya, sehingga tarian akan tampak lebih hidup atau dinamis. Penggunaan waktu dalam gerak tari, yaitu berkaitan dengan penyelesaian sebuah gerakan. Misalnya, untuk gerak berjalan sambil kaki jinjit dapat dilakukan dengan gerak lambat, gerak cepat atau gerak sedang. Oleh karena itu, waktu dalam tari terkait dengan ritme atau irama yang sekaligus memberikan nafas sehingga tari tampak hidup. 

 Dalam tari terdapat gerakan dengan ritme atau irama cepat, ritme atau irama sedang, dan ritme atau irama cepat yang harus diselesaikan oleh si penari. Contoh dalam tari tradisi terdapat gerak keupat anca dan terdapat pula gerak keupatgancang. Kedua jenis keupat ini geraknya sama, namun aplikasinya dalam tari dapat dilakukan dengan tempo atau ritme yang berbeda. Tentu saja hal ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan tari itu sendiri. Demikian pula dengan gerak-gerak yang lain dalam tari tradisi atau tari lainnya, untuk gerak yang sama dapat dilakukan dengan ritme yang berbeda sesuai dengan kebutuhan ungkap gerak, sehingga tarian tidak terkesan monoton. Jika kita perhatikan, maka gerakan yang dilakukan dengan ritme yang cepat dapat memberikan kesan aktif dan menggairahkan, sedangkan gerakan yang dilakukan dengan ritme lambat memberikan kesan tenang dan agung atau bahkan sebaliknya dapat menimbulkan kejenuhan (membosankan). Namun demikian, setiap tarian terjadi tidak seluruhnya harus dibawakan dengan ritme cepat atau ritme lambat. Suatu tarian sebaiknya dibawakan dengan ritme yang bervariasi, sehingga suatu tarian tampak lebih menarik, dan lebih dinamis. 

Senin, 02 Agustus 2021

PENGELOMPOKAN JENIS GERAK TARI

 Perlu ditegaskan kembali bahwa tari merupakan salah satu bentuk seni yang dapat dinikmati secara visual. Melalui sebuah karya tari kita dapat menikmati tidak hanya melalui gerak-gerak yang indah, tetapi kita juga melihat busananya, riasnya, property, penarinya, dan sebagainya. Namun dari keseluruhan itu, ungkapan gerak merupakan medium utama dalam tari, karena gerak merupakan bahan baku atau substansi dasar dari tari. Gerak sebagai substansi dasar adalah gerak badani yang dihasilkan dari seluruh anggota badan. Gerak-gerak badani sebagai gerak trai tentu bukan gerak realistik dalam kegiatan keseharian seperti gerak bekerja, gerak bermain, gerak olahraga dan sebagainya, namun gerak sebagai bahan dasar tari adalah gerak yang telah diberi bentuk ekspresif. Gerak ekspresif menurut Suzanna K. Langer dalam Soedarsono (1972) adalah gerak-gerak yang indah yang dapat menggetarkan perasaan manusia. Gerak-gerak yang indah adalah gerak yang distilir.


Gerak untuk kebutuhan tari tidak lepas dari sentuhan pengalaman-pengalaman hidup manusia, namun gerak yang digunakan telah mengalami pengolahan stilisasi atau distorsi. Melalui pengolahan atau eksplorasi inilah maka lahir gerak tari. Gerak-gerak yang lahir adalah gerak-gerak yang telah di proses atau dieksplorasi melalui stilisasi, dikomposisikan dan disusun berdasarkan kebutuhan ungkapan tarian berdasarkan tema, cerita, komposisi, koreografi, kinestetik dan sebagainya.

Gambar 1. Gerak dalam pertunjukan tari


Terdapat dua jenis gerak dalam tari, yaitu pertama gerak yang diungkapkan melalui gerak-gerak maknawi. Gerak maknawi adalah gerak-gerak yang mempunyai arti dengan simbol-simbol maknawi melalui pengungkapan imitatif dan interpretatif. Gerak-gerak maknawi yang dibawakan secara imitatif dan interpretatif melalui simbol-simbol maknawi tersebut disebut gesture. Kedua adalah gerak murni, yaitu gerak yang lebih mengutamakan keindahan dan tidak menyampaikan pesan maknawi. Kedua jenis gerak tersebut merupakan manifestasi dan pengalaman para seniman tari yang diolah kedalam gerak sehingga menjadi satu kompoisis atau koreografi yang terpadu menjadi satu kesatuan yang artistik dan harmonis.

Beberapa contoh gerak maknawi yang terdapat dalam tari tradisi Sunda diantaranya, Inyawang, keupta, sembah, samburan, sumberan, dan sebagainya. Gerak nyawang mempunyai makna melihat kearah yang lebih jauh, gerak sembah mempunyai makna penghormatan, gerak jangkung ilo mempunyai makna menimbang-nimbang rasa dan sebagainya. 

Gerak-gerak murni diantaranya yaitu ukel, godeg, capang, ulap-ulap, pacak jangga, miwir sampur atau jiwir sinjang dan sebagainya. Gerak-gerak tersebut tidak mempunyai makna tapi merupakan gerak yang sangat diperhitungkan dari segi estetikanya atau keindahannya, sehingga traian tampak luwes dan menarik. Gerak yang indah tidak identik dengan gerak yang bagus, tetapi gerak-gerak yang kuat, kasar keras, penuh dengan tekanan-tekanan serta gerak aneh dapat sebagai ungkapan gerak tari yang indah.


Gerak sebagai medium pokok dalam trai mempunyai 3 unsur yang perlu diperhatikan, yaitu volume, garis, dan bentuk.

1. Volume merupakan satu kesan ruang yang timbul oleh kedudukan anggota tubuh

2. Garis merupakan posisi anggota yang membentuk kesan-kesan garis dalam suatu posa

3. Bentuk adalah keseluruhan pose gerak pada saat perhenti


Didalam tari, setiap gerakan mengandung watak tertentu. Dengan demikian, setiap gerak yang diungkapkan oleh seorang penariakan menimbulkan kesan tertentu kepada penontonnya. Watak gerak berbeda dengan makna gerak, walaupun keduanya sering terpadu didalam suatu gerak. Misalnya jika seorang penari akan menggambarkan menangis, ia akan menggunakan gerak maknawi dengan menutup muka serta mengecilkan badannya. Dengan gerak semacam ini, penonton akan lebih mudah mendapat kesan, bahwa penari itu sedang menggambarkan menangis. Kesan ini menjadi lebih jelas dan dalam lagi karena penari mengecilkan atau mengerutkan badannya dengan menekuk tungkainya serta sedikit membungkukkan badannya kelantai dalam posisi lengan tertutup.


Gerak yang diperkecil atau dikerutkan mempunyai watak sedih, menyerah, tidak berdaya serta takut. Dengan demikian penari tersebut akan berhasil didalam mengungkapkan gerak menangis atau kesedihan apabila memadukan gerak maknawi tangan yang menutup muka dengan tubuh serta anggota-anggota badan yang diperkecil atau dikerutkan.


Jika kita cermati lebih jauh dilihat dari garis-garis geraknya, secara garis besar gerak tari dapat dibagi menjadi dua yaitu gerak simetris dan gerak asimetris. Garis-garis yang simetris mempunyai watak sederhana, kokoh, tenang namun akan membosankan bila terlalu sering digunakan. Garis-garis asimetris memiliki wakat kurang kokoh, tetapi dinamis dan menarik. Dengan adanya garis gerak yang memiliki perbedaan watak, maka agar garapan seorang koreografer tetap menarik dianjurkan untuk lebih banyak menggunakan garis-garis tidak simetris.


Garis-garis gerak juga masih dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni garis-garis silang atau akan bertemu dan garis-garis terpisah atau searah. watak gerak pada garis-garis silang penuh energi, sedangkan garis terpisah memiliki watak halus dan lembut. Perpaduan antara watak gerak berdasarkan garis simetris dan tidak simetris serta garis silang dan tidak silang akan menimbulkan perwatakan baru. Disamping itu gerak-gerak trai dapat dibedakan berdasarkan volume gerak, yang dapat dibagi menjadi tiga, yakni volume besar, sedang dan kecil. Volume besar atau terbuka mempunyai watak kelaki-lakian, volume kecil atau tertutup mempunyai watak kewanitaan, dan volume sedang memberikan kesan kelaki-lakian yang halus atau kewanitaan yang kelaki-lakian atau lebih berkesan feminim.

MEMBUAT KARYA TARI SEDERHANA

 MEMBUAT KARYA TARI SEDERHANA  Menurut Alma Hawkins (1990) dalam buku “Mencipta Lewat Tari (Creating Trough Dance )”, terdapat beberapa tah...